31 Agustus 2008

Manajemen mutu dan sistem kontrol

Ada 2 ayat dalam Alqur’an yang memiliki pesan moral yang sama.

Ayat pertama,


Engkau adalah (telah menjadi) ummat terbaik yang pernah hadir untuk manusia, Engkau menyeru kepada kebaikan, mencegah kemungkaran (Ali Imron:110)

Ayat kedua,

Dan hendaknya Engkau menjadi ummat yang menyeru kepada kebaikan, memerintahkan perbuatan baik, dan mencegah perbuatan buruk, (semoga) Engkau menjadi ummat yang mencapai kemenangan. (Ali Imron: 104)

Kedua ayat bicara tentang “amar ma’ruuf nahii munkar”, menyeru dan mendukung perbaikan, sekaligus menghindari dan melawan keburukan (pemburukan). Kedua ayat menjanjikan kemenangan dan posisi terbaik, sebagai hasil akhirnya.

Ayat pertama menggunakan kalimat ber “fiil maadzi” (past tense), yang menegaskan bahwa posisi ummat terbaik telah dapat dicapai oleh generasi Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya. Sedangkan ayat kedua menggunakan kalimat ber “fiil mudlori” (future tense) dengan penekanan “himbauan”, yang menegaskan bahwa kondisi yang pernah dicapai oleh generasi rasul beserta para sahabatnya, dapat juga dicapai pada masa yang akan datang oleh generasi sesudahnya.

Ada yang menarik dari kedua ayat tersebut di atas, yaitu konsep manajemen mutu, yang banyak dibahas dalam ilmu modern kini.

Dalam semua bidang ilmu, termasuk sosial, sains, dan teknologi, lazim diyakini bahwa mutu yang baik hanya akan dapat dicapai oleh sistem memiliki sistem kendali (kontrol). Setiap sistem kendali memiliki 3 kemampuan, yaitu 1) monitoring, 2) analisis, 3) tindakan koreksi

Sejelek apapun kondisi awal sistem, jika memiliki umpan balik yang baik, maka dia akan mencapai keadaan yang lebih baik dari waktu ke waktu. Sebaliknya, sebaik apapun kondisi awal sistem, jika memiliki umpan balik yang buruk (tidak punya umpan balik), maka dia akan mencapai kondisi yang lebih buruk di masa yang akan datang.

Begitulah Islam memiliki sistem nilai, bahwa kondisi akan lebih jika ada mekanisme kontrol melalui “amar ma’ruuf nahii munkar”.

Seorang muslim bukanlah makhluk individu yang “cukup” hanya melakukan perbuatan baik untuk dirinya saja, sebaik apapun kualitas perbuatan baiknya. Ia harus berpartisipasi secara aktif melakukan kontrol bagi kebaikan orang lain. Kebaikan komunal, kolektif, masyarakat adalah tujuan akhir dari kehadiran setiap individu muslim.

Kontribusinya tidak cukup hanya untuk menyeru kepada kebaikan, tetapi juga untuk menghindari dan mencegah kemungkaran.

Yang baik, ia dukung dan sebarkan

Yang jelek, ia tolak dan tentang

Itu hakikat dari perbaikan mutu sistem, menguatkan sinyal positif, dan menghapus sinyal gangguan

Subhaanallah, Islam itu modern. Mari kita juga berperilaku modern.

Penulis : Slamet Santoso

Tidak ada komentar: