24 September 2008
Lebaran
31 Agustus 2008
Manajemen mutu dan sistem kontrol
Ada 2 ayat dalam Alqur’an yang memiliki pesan moral yang sama.
Ayat pertama,

Engkau adalah (telah menjadi) ummat terbaik yang pernah hadir untuk manusia, Engkau menyeru kepada kebaikan, mencegah kemungkaran (Ali Imron:110)
Ayat kedua,

Dan hendaknya Engkau menjadi ummat yang menyeru kepada kebaikan, memerintahkan perbuatan baik, dan mencegah perbuatan buruk, (semoga) Engkau menjadi ummat yang mencapai kemenangan. (Ali Imron: 104)
Kedua ayat bicara tentang “amar ma’ruuf nahii munkar”, menyeru dan mendukung perbaikan, sekaligus menghindari dan melawan keburukan (pemburukan). Kedua ayat menjanjikan kemenangan dan posisi terbaik, sebagai hasil akhirnya.
Ayat pertama menggunakan kalimat ber “fiil maadzi” (past tense), yang menegaskan bahwa posisi ummat terbaik telah dapat dicapai oleh generasi Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya. Sedangkan ayat kedua menggunakan kalimat ber “fiil mudlori” (future tense) dengan penekanan “himbauan”, yang menegaskan bahwa kondisi yang pernah dicapai oleh generasi rasul beserta para sahabatnya, dapat juga dicapai pada masa yang akan datang oleh generasi sesudahnya.
Ada yang menarik dari kedua ayat tersebut di atas, yaitu konsep manajemen mutu, yang banyak dibahas dalam ilmu modern kini.
Dalam semua bidang ilmu, termasuk sosial, sains, dan teknologi, lazim diyakini bahwa mutu yang baik hanya akan dapat dicapai oleh sistem memiliki sistem kendali (kontrol). Setiap sistem kendali memiliki 3 kemampuan, yaitu 1) monitoring, 2) analisis, 3) tindakan koreksi
Sejelek apapun kondisi awal sistem, jika memiliki umpan balik yang baik, maka dia akan mencapai keadaan yang lebih baik dari waktu ke waktu. Sebaliknya, sebaik apapun kondisi awal sistem, jika memiliki umpan balik yang buruk (tidak punya umpan balik), maka dia akan mencapai kondisi yang lebih buruk di masa yang akan datang.
Begitulah Islam memiliki sistem nilai, bahwa kondisi akan lebih jika ada mekanisme kontrol melalui “amar ma’ruuf nahii munkar”.
Seorang muslim bukanlah makhluk individu yang “cukup” hanya melakukan perbuatan baik untuk dirinya saja, sebaik apapun kualitas perbuatan baiknya. Ia harus berpartisipasi secara aktif melakukan kontrol bagi kebaikan orang lain. Kebaikan komunal, kolektif, masyarakat adalah tujuan akhir dari kehadiran setiap individu muslim.
Kontribusinya tidak cukup hanya untuk menyeru kepada kebaikan, tetapi juga untuk menghindari dan mencegah kemungkaran.
Yang baik, ia dukung dan sebarkan
Yang jelek, ia tolak dan tentang
Itu hakikat dari perbaikan mutu sistem, menguatkan sinyal positif, dan menghapus sinyal gangguan
Subhaanallah, Islam itu modern. Mari kita juga berperilaku modern.
Penulis : Slamet Santoso
11 Agustus 2008
Gagal Pangkal Sukses
22 Juli 2008
Ada Tetesan Setelah Tetesan Terakhir
Begitu banyak orang setiap malam menyaksikan unjuk kekuatan otot manusia kuat ini.
Manusia kuat ini mampu melengkungkan baja tebal hanya dengan tangan telanjang. Tinjunya dapat menghancurkan batu bata tebal hingga berkeping-keping.
Ia mengalahkan semua pria di kota itu dalam lomba panco. Namun setiap kali menutup pertunjukkannya ia hanya memeras sebuah jeruk dengan genggamannya. Ia memeras jeruk tersebut hingga ke tetes terakhir.
'Hingga tetes terakhir', pikirnya.
Manusia kuat lalu menantang para penonton: "Hadiah yang besar kami sediakan kepada barang siapa yang bisa memeras hingga keluar satu tetes saja air jeruk dari buah jeruk ini!"
Kemudian naiklah seorang lelaki, seorang yang atletis, ke atas panggung. Tangannya kekar. Ia memeras dan memeras... dan menekan sisa jeruk... tapi tak setetespun air jeruk keluar. Sepertinya seluruh isi jeruk itu sudah terperas habis. Ia gagal. Beberapa pria kuat lainnya turut mencoba, tapi tak ada yang berhasil. Manusia kuat itu tersenyum-senyum sambil berkata : "Aku berikan satu kesempatan terakhir, siapa yang mau mencoba?"
Seorang wanita kurus setengah baya mengacungkan tangan dan meminta agar ia boleh mencoba. "Tentu saja boleh nyonya. Mari naik ke panggung." Walau dibayangi kegelian di hatinya, manusia kuat itu membimbing wanita itu naik ke atas pentas. Beberapa orang tergelak-gelak mengolok-olok wanita itu. Pria kuat lainnya saja gagal meneteskan setetes air dari potongan jeruk itu apalagi ibu kurus tua ini. Itulah yang ada di pikiran penonton.
Wanita itu lalu mengambil jeruk dan menggenggamnya. Semakin banyak penonton yang menertawakannya. Lalu wanita itu mencoba memegang sisa jeruk itu dengan penuh konsentrasi. Ia memegang sebelah pinggirnya, mengarahkan ampas jeruk ke arah tengah, demikian terus ia ulangi dengan sisi jeruk yang lain. Ia terus menekan serta memijit jeruk itu, hingga akhirnya memeras... dan "ting!" setetes air jeruk muncul terperas dan jatuh di atas meja panggung.
Penonton terdiam terperangah. Lalu cemoohan segera berubah menjadi tepuk tangan riuh.
Manusia kuat lalu memeluk wanita kurus itu, katanya, "Nyonya, aku sudah melakukan pertunjukkan semacam ini ratusan kali. Dan, banyak orang pernah mencobanya agar bisa membawa pulang hadiah uang yang aku tawarkan, tapi mereka semua gagal. Hanya Anda satu-satunya yang berhasil memenangkan hadiah itu.
Boleh aku tahu, bagaimana Anda bisa melakukan hal itu?"
"Begini," jawab wanita itu, "Aku adalah seorang janda yang ditinggal mati suamiku. Aku harus bekerja keras untuk mencari nafkah bagi hidup kelima anakku.
Jika engkau memiliki tanggungan beban seperti itu, engkau akan mengetahui bahwa selalu ada tetesan air walau itu di padang gurun sekalipun. Engkau juga akan mengetahui jalan untuk menemukan tetesan itu. Jika hanya memeras setetes air jeruk dari ampas yang engkau buat, bukanlah hal yang sulit bagiku".
Selalu ada tetesan setelah tetesan terakhir. Aku telah ratusan kali mengalami jalan buntu untuk semua masalah serta kebutuhan yang keluargaku perlukan.
Namun hingga saat ini aku selalu menerima tetes rahmat untuk hidup keluargaku. Aku percaya Tuhanku hidup dan aku percaya tetesan rahmat-Nya tidak pernah kering, walau mata jasmaniku melihat semuanya telah kering. Aku punya alasan untuk menerima jalan keluar dari masalahku. Saat aku mencari, aku menerimanya karena ada Allah yang mengasihiku.
"Bila Anda memiliki alasan yang cukup kuat, Anda akan menemukan jalannya", demikian kata seorang bijak.
Seringkali kita tak kuat melakukan sesuatu karena tak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menerima hal tersebut.